Minggu, 13 Maret 2016

Contoh Makalah Sastra Lama Panji Asmarabangun



CERITA PANJI ASMARABANGUN


Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan
Sastra Lama
yang dibina oleh Bapak Teguh Tri Wahyudi, S.S, M.A.




Disusun oleh:
Zuni Lilaifi                  (150212603315)



















UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PROGRAM STUDI S1 BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Desember 2015






PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karya sastra adalah hasil dari kegiatan menulis maupun menuliskan sebuah pengetahuan lisan. Karya sastra pada umumnya menceritakan kisah dengan alur dan menggunakan setting waktu tertentu, kerajaan-kerajaan pada masa lalu,  misalnya karya kesusastraan Melayu Klasik. Karya sastra pada kesusastraan Melayu Klasik salah satunya adalah cerita panji. Cerita panji adalah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik. Cerita panji memiliki banyak versi yang digemari orang Indonesia terutama orang Jawa dan Bali. Cerita ini menyebar di Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina.
Cerita panji yang berasal dari Jawa tepatnya pada era kerajaan Kediri mengisahkan kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utama yaitu Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana). Cerita panji memiliki turunan karena keberagaman versinya dan dimasukkan dalam satu kategori yang disebut dengan “Lingkup Panji”. Beberapa cerita yang termasuk dalam cerita Lingkup Panji yaitu Keong Mas, Ande-ande Lumut, dan Golek Kencana. Tiga contoh cerita Lingkup Panji tersebut pada umumnya dikenal dengan cerita rakyat yang merupakan turunan cerita panji.
Penyebaran cerita panji hingga muncul kategori disimpulkan bermula pada zaman keemasan Majapahit dan penyebaran ke luar Jawa terjadi pada masa yang lebih dengan penuturan lisan. Makalah ini akan membahas mengenai bukti cerita panji berasal dari Jawa, ringkasan cerita Panji Asmarabangun, diskusi tentang cerita panji, dan keterkaitan cerita panji.

Rumusan Masalah
Masalah dan topik pembahasan dalam makalah ini sebagai berikut.
1)                  Apa bukti cerita Panji berasal dari Jawa?
2)                  Bagaimana ringkasan cerita Panji Asmarabangun?
3)                  Bagaimana diskusi tentang cerita panji oleh para tokoh?
4)                  Apa keterkaitan cerita panji dengan lingkungan dan sejarah?


PEMBAHASAN
Dalam makalah ini, akan dijelaskan cerita panji berasal dari Jawa, ringkasan cerita Panji Asmarabangun, diskusi tentang cerita panji oleh para tokoh, dan keterkaitan cerita panji dengan lingkungan dan sejarah.

Cerita Panji Berasal dari Jawa
Cerita panji adalah sebuah kumpulan cerita berasal dari Jawa periode klasik yang mengisahkan kepahlawanan dan cinta. Penyebaran cerita panji di Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Filipina membuat para ahli membandingkan perkembangan dalam penyebaran tersebut. Cerita panji menurut para ahli tersebar berkisar antara tahun 1277 M hingga 1400 M. Ada pendapat bahwa cerita panji telah ada dalam Bahasa Jawa Kuno oleh karena itu cerita panji berasal dari Jawa. Cerita tersebut disalin dalam Bahasa Tengahan dan Bahasa Melayu.
Cerita panji berasal dari Jawa dibuktikan dengan relief tokoh Panji dan para pengiringnya yang ditemukan di daerah Kediri maka Poerbatjaraka, sarjana dari Jawa, menyatakan bahwa relief tersebut dibuat sekitar tahun 1400 M. Akhirnya disimpulkan bahwa awal mula cerita panji terjadi pada zaman keemasan Majapahit dan ditulis dengan Bahasa Jawa Tengahan namun menyebar ke luar Jawa dengan cara lisan. Cerita panji yang tersebar memiliki isi yang sama yaitu kepahlawanan, cinta, dan gambaran kehidupan nenek moyang misalnya perjodohan. Salah satu contoh cerita panji yaitu Panji Asmarabangun. Panji Asmarabangun menceritakan kisah cinta Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana.

Ringkasan Cerita Panji Asmarabangun
Raden Inu Kertapati dan Prasanta menyamar menjadi seorang pedagang beras karena tidak ingin orang lain tau identitas mereka. Perjalanan menuju Jenggala ditemani Bancak dan ketiga kawannya namun saat melintasi Brantas mereka disergap berandal yang mengaku memiliki sebutan Luwak Ireng. Satu persatu mereka saling bertarung akhirnya tiga berandal tumbang hingga ke sungai. Pimpinan mereka melarikan diri dan dari informasi yang didapat dia adalah seorang lurah.
Perjalanannya terhenti karena ada pesan dari Ayahanda, Prabu Lembu Amiluhur, memerintah Raden Inu agar cepat menuju Daha. Di dermaga terdekat Inu memerintah petugas keamanan mengantar beras hingga Jenggala sedangkan Raden Inu dan Prasanta menuju ke Daha untuk urusan keluarga, melamar Dewi Sekartaji yaitu putri Prabu Lembu Amerdadu, Raja Panjalu. Pernikahan ini adalah misi perdamaian Kerajaan Jenggala dan Panjalu karena sejak sepeninggalan Prabu Airlangga sering terjadi ketidak selarasan antara Kerjaan Jenggala dan Panjalu. Jalan untuk melakukan perdamaian yaitu menjodohkan salah seorang putra Raja dan putri Raja dari keduanya dengan syarat harus saling mencintai. Sesampainya Raden Inu dan Prasanta di dermaga, Inu memiliki strategi yaitu yang menemui Bapa Patih adalah Prasanta sedangkan Inu memilih jalur berbeda tetapi masih bisa mengawasi Prasanta. Prajurit yang mengawal Bapa Patih Kudawarsana, Panji Sastra Miruda, dan Dewi Ragil Kuning, keduanya adik Inu Kertapati, awalnya tidak memperbolehkan Prasanta menemui Bapa Patih. Akhirnya Prasanta hanya menjelaskan bahwa Raden Inu setuju dengan perjodohan tersebut dan Inu ingin menuju Dewi Sekartaji tanpa pengawalan. Pada perjalanan mereka dihadang Luwak Ireng namun Luwak Ireng dapat terkalahkan.
Sambutan kedatangan Raden Inu Kertapati dengan resmi melamar Dewi Sekartaji sangat ramai. Rakyat Panjalu sangat penasaran dengan Raden Inu Kertapati. Prabu Lembu Amerdadu dan Permaisuri Sri Ratu Mahadewi  menjodohkan Gusti Ayu Mas Dewi Sekartaji yang mengemban pustaka Gusti Putri Ayu Galuh Candrakirana dengan Raden Inu Kertaapati yang mengemba pustaka Raden Panji Asmarabangun. Dalam kebahagiaan tersebut, ada saja kendala yaitu putri selir, Galuh Ajeng, iri melihat mereka sehingga ia menyamar menjadi penari penyambut Raden Panji untuk menarik perhatiannya.
Saatnya pertama kali Raden Inu Kertapati menginap di Istana Dahanapura. Pagi hari sudah olah kanuragan dengan Bapa Patih. Kegiatan-kegiatan di istana berjalan seperti biasa, Dewi Sekartaji dengan batik dan menarinya. Galuh Ajeng yang suka memerintah bibi-bibi istana. Namun, hari itu Raden Gunungsari mengajak Bapa Patih dan Raden Inu untuk berkuda. Sembari mengajak keduaa tamu agungnya Raden Gunungsari memperkenalkan mereka dengan Ni Luh Sukma dan Warih seorang rakyat biasa yang bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Di kerajaan Panjalu memiliki kebiasaan berburu di malam purnama. Malam purnama nanti Inu Kertapati akan diajak berburu bersama Prabu Lembu Amerdadu dan Raden Gunungsari. Namun Permaisuri Mahadewi dan Sekartaji juga ingin ikut. Pada saatnya tiba Sekartaji dan Inu berangkat terlebih dahulu untuk menikmati pemandangan. Mereka mampir ke telaga dan beristirahat di pondok milik Ki Jambe. Perjanjian bertemu dengan Raden Gunungsari sudah tiba dan waktunya berburu tetapi datang berandal dan mampu dibasmi disisakan satu untuk mengorek informasi. Setelah membawa pulang buruan mereka, keesokan harinya Pangeran bergelar Panji Asmarabangun pamit pulang ke Jenggala.
Dalam perjalanannya menuju Jenggala, Inu mendapat serangan anak buah Yuyu Kangkang saat menyebrangi sungai Brantas. Inu mendapat informasi dari berandal yang disisakan, Ubreg, bahwa tempat persembunyian Yuyu Kangkang di sebelah pohon gayam paling besar. Perjalanan menuju Jenggala memang lama maka ia mampir di pondok milik Janda, Mbok Gunem. Namun ia harus melanjutkan perjalanan dan sesampainya di istana dia disambut ibunda sehingga Inu mencurahkan semua kabarnya dan rencana penyamarannya untuk menumpas Yuyu Kangkang. Dalam penyamaran Inu memakai nama Joko Lumut, setelah dua hari di istana dia pergi ke Daha untuk menemui kekasihnya namun tidak pulang lagi karena Inu akan tinggal di pondok Mbok Gunem dalam penyamaran.
Joko Lumut mulai menjalankan misi menumpas Yuyu Kangkang dan pengikutnya dengan menyusuri hutan akhirnya menemui Pak Sela dan keluarga. Namun perasaan Inu tidak enak. Saat cuaca berubah drastis adanya hujan deras, lesu, topan, dan kluwung menurut Sela akan ada Pembesar yang mangkat. Perasaan yang tidak enak membawanya ke tempat Simbok Gunem di situlah Inu mendapat kabar bahwa Permaisuri Mahadewi mangkat karena racun. Hal itu membuat Sekartaji menderita sangat terpukul dan terlebih lagi ibunda selir serta Galuh Ajeng semakin berkuasa mengendalikan Prabu Lembu Amerdadu. Dewi Sekartaji semakin tidak terawat akhirnya dia kabur dari istana ke tepak Ki Jambe Kuning. Dia menyamar sebagai pangeran, Panji Kuda Semirang, karena menurut cerita Tiongkok ada pangeran muda berjodoh dengan Pangeran berkuda putih tidak lain adalah Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji. Dia menobatkan sebagai raja di sebuah telaga yang diberi nama Kerajaan Alas Telaga. Galuh Ajeng ingin menumpas kerajaan itu tetapi Joko Lumut ingin bergabung kerajaan itu karena dia telah diusir Prabu Lembu Amiluhur perihal kabur saat dinikahkan dengan Galuh Ajeng.
Galuh Ajeng meminta bantuan Yuyu Kangkang untuk menumpas Panji Kuda Semirang namun Yuyu sudah kurang daya karena pengikutnya kalah dengan Inu Kertapati dan Raden Gunungsari. Akhirnya Galuh Ajeng hanya menjadi pemuas nafsu Yuyu malah Yuyu kalah dan sudah ditahan di Jenggala. Inu kembali ke pondok Simbok Gunem dan mohon izin Ata membuka lamaran, ngunggah-unggahi. Banyak perempuan yang datang namun dia menolak karena tidak cocok, datanglah Wara Ayu, anak bapa patih, dia ditolak karena Inu tahu kalau dia tengah hamil. Galuh Ajeng juga datang, dia ditolak karena Inu tahu dia bekas Yuyu. Akhirnya datanglah Klething Kuning dan Inu menerima karena dia tahu bahwa Kuning adalah Dewi Sekartaji. Mereka hidup bahagia di istana Dahanapura. Ibunda selir dan Galuh Ajeng kabur dari istana karena terbukti meracuni Permaisuri melalui perantara.
Cerita ini berdasarkan tuturan lisan dan dirujuk dari novel “Panji Asmarabangun” karya R. Toto Sugiharto. Beliau adalah narasumber workshop creative writing dan pernah bekerja sebagai jurnalis di Harian Bernas. Beliau telah enulis puisi, esai, cerpen, dan novel. Beliau lahir di Jakarta, 4 April 1966 namun saat ini menetap di Yogyakarta.
Diskusi tentang Cerita Panji oleh Para Tokoh
Cerita panji adalah sastra lisan klasik yang berasal dari Jawa Timur dan menyebar ke berbagai daerah di sejumlah negara. Cerita panji pada umumnya bercerita tentang kisah cinta Panji Asmarabangun dari kerajaan Jenggala dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana dari Keraajaan Kediri. Penyebaran cerita panji diperkirakan akibat propaganda orang Jawa sendiri.
Dr. W. H. Rassers berpendapat bahwa cerita panji berasal dari mitos bulan dan matahari seperti yang masih dapat dibaca dalam cerita Kalangi dan Manimporok. Pada zaman Jawa terbagi menjadi dua golongan dan yang diceritakan panji adalah kelakuan nenek moyang kedua golongan. Dalam golongan masih memiliki hubungan tetomisme, upacara inisiasi dari salah satu kelompok menurut kelahirannya.
K. A. H. Hidding memiliki pendapat sendiri karena tidak setuju dengan Rassers. Dalam perjuangan antara dua golongan, cerita panji adalah lambang dua kekuatan yang terdapat dalam jiwa manusia. Selain itu T. G. Th. Pigeaud menolak pembagian dua golongan yang dikatakan Rassers. B.M. Goslings menolak pendapat Raseers bahwa cerita panji adalah cerita suci sedangkan H. B. Sarkar berkata cerita panji tidak ada hubungannya dengan tetomisme.
Dr. Poerbatjaraka, sarjana dari Jawa, keberatan dengan bahan perbandingan Rassers, Hikayat Cekel Waneng Pati yaitu cerita panji muda sedangkan cerita panji tua yaitu Hikayat Panji Kuda Semirang. Dalam cerita panji ada usaha mempertinggi kedudukan kekasih panji, putri Daha yaitu Candrakirana. J. J. Ras juga mengungkapkan pendapat cerita panji adalah sejarah legendaris Jawa. Buktinya ada dalam kitab Babad Tanah Jawi, Serat Kandi, Cerita Jaya Lengkana, dan Babad Daha-Kediri.
Cerita Panji Asmarabangun adalah cerita panji yang memiliki usaha meninggikan kedudukan kekasihnya. Cerita panji tersebut dikisahkan dengan lisan namun sekarang dapat ditemukan dalam bentuk tulisan bahkan dalam bentuk novel yang menggunakan bahasa Indonesia. Namun Dr. Poerbatjaraka memiliki kesimpulan cerita panji yang asli tercipta pada atau sesudah masa kejayaan Majapahit dan Cerita Panji Asmarabangun adalah tokoh dari cerita asli.

Keterkaitan Cerita Panji dengan Lingkungan dan Sejarah
Panji Asmarabangun dan pasangannya, Dewi Candrakirana, dalam mitologi Jawa dianggap sebagai reinkarnasi Dewa Wisnu dan Dewi Sri (Dewi Padi). Raffles mencatat bahwa mitos panji sebagai reinkarnasi Dewa Wisnu, dan Dewi Candrakirana sebagai reinkarnasi Dewi Sri (Dewi Padi) adalah cerita-cerita tutur yang dikembangkan oleh orang-orang Jawa untuk menghormati dan memuliakan Panji Asmarabangun dan Candrakirana. Hal tersebut terdapat pula di Serat Kandha.

Hubungan dengan Sejarah
Cerita di dalam lakon panji berhubungan dengan tokoh-tokoh nyata dalam sejarah Jawa (terutama Jawa Timur). Tokoh Panji Asmarabangun dihubungkan dengan Sri Kamesywara, raja yang memerintah Kediri sekitar tahun 1180 hingga 1190-an. Permaisuri raja ini memiliki nama Sri Kirana adalah puteri dari Jenggala, dan dihubungkan dengan tokoh Candra Kirana. Selain itu ada pula tokoh seperti Dewi Kilisuci yang konon adalah orang yang sama dengan Sanggramawijaya Tunggadewi, putri mahkota Airlangga yang menolak untuk naik tahta.

Hubungan dengan Lingkungan
Cerita panji berkembang melalui beberapa aspek kehidupan dan bentuk seni seperti tari, sastra, teater, wayang, seni lukis, dan seni pahat. Dalam cerita panji memiliki banyak versi yang dipengaruhi oleh 1) kreativitas pada tiap-tiap penyadur cerita panji dalam bentuk karya sastra, 2) kelenturan cerita panji dalam bentuk tradisi lisan atau folklor yang banyak dikembangkan oleh para seniman, 3) pengadaptasian cerita panji pada mitos da legenda di setiap daerah persebaran cerita tersebut. Beberapa versi cerita panji pada intinya bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmarabangun) dari kerajaan Jenggala dan Dewi Candrakirana dari kerajaan Panjalu.

Hubungan dengan Purbakalan Indonesia
Keberadaan cerita pan dalam karya sastra masih dapat disaksikan hingga saat ini melalui temuan beberapa relief maupun arca yang melukiskan tokoh panji. Hal ini didasarkan pada data artefaktual yaitu data relief candi dari abad ke-13 sampai 15 M yang banyak dijumpai beberapa candi di Jawa Timur. Cerita Panji dipahatkan di 7 kepurbakalaan, yaitu candi Jawi, Pendopo Teras II Panataran, Surawana, Miri Gambar, serta 3 punden berundak di Gunung Penanggungan yaitu pada Kepurbakalaan VIII, XXII, dan LXV.



PENUTUP
Kesimpulan
Cerita panji adalah cerita yang berasal dari Jawa namun penyebarannya hingga beberapa wilayah di Asia Tenggara. Dalam penyebaran itu cerita panji yang merupakan cerita tutur atau lisan menyebabkan munculnya beberapa versi namun dalam versi apapun cerita yang diangkat adalah tentang kehidupan tokoh Raden Panji yaitu Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana.
Panji Asmarabangun digambarkan sebagai seorang laki-laki yang tampan, gagah, berani, cerdas, dan adil. Galuh Candrakirana adalah seorang perempuan yang cantik, pintar, dan tabah dalam setiap masalah. Dalam cerita Panji Asmarabangun, semuanya bercermin pada kehidupan kerajaan namun ada hal yang tidak ditampilkan dan ada juga yang dilebih-lebihkan. Makalah ini membahas cerita Panji Asmarabangun dari tuturan lisan seorang sesepuh dan diambil dari novel R. Toto Sugiharto yaitu “Panji Asmarabangun”.
Cerita panji perlu mendapat perhatian untuk diberi pengembangan agar lebih hidup. Menurut penuturan lisan Panji Asmarabangun adalah titisan dewa. Hal itu antara mitos, sejarah, dan dongeng. Cerita panji adalah inspirasi dari dongeng-dongeng yang telah orang kenal pada umumnya.



DAFTAR RUJUKAN
Sugiharto, R. Toto. 2013. Panji Asmarabangun. Jogjakarta: DIVA Press
Fang, Liaw Yock. 2011. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Sentalu, Ullen. 2015. Cerita Panji, (online), (http://blog.ullensentalu.com/cerita-panji/) diakses pada 4 Desember 2015
Sumaryono. 2011. Cerita Panji antara Mitos, Sejarah, dan Legenda, (online), (http://repo.isi-dps.ac.id/896/4/The_Story_of_Panji_Between_History,_Myths,_and_Legend_-_Sumaryono_-_Mudra.PDF) diakses pada 4 Desember 2015

Senin, 15 Februari 2016

Contoh Makalah Sejarah Sastra Indonesia 2000-an



KARAKTERISTIK KARYA SASTRA PERIODE 2000-AN



Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan
Sejarah Sastra Indonesia
yang dibina oleh Ibu Dra. Ida Lestari, M.Si.




Disusun oleh:
Sarah Sajidah Zahra    150212602851
Zakiatu Annabella       150212605071
Zuni Lilaifi                  150212603315




















UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PROGRAM STUDI S1 BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Oktober 2015







A.    Latar Belakang
Pada periode 2000-an muncul pengarang wanita yang umumnya menulis tentang pemikiran yang tajam dan bebas dengan ungkapan perasaan. Ada di antara mereka yang menampilkan nuansa-nuansa erotik, hal-hal yang sensual bahkan seksual. Sastra Angkatan 2000 sering disebut sastra mutakhir. Salah satu karya yang berani tampil beda pada periode ini adalah Saman oleh Ayu Utami dan dijadikan sebagai tonggak pembaharu sastra dalam sejarah sastra. Novel Saman (1998) oleh Ayu Utami ini melahirkan wawasan estetik baru karena mencirikan teknik khas yang tampak dari pola kolase.
Penamaan periode 2000 sementara masih dalam perdebatan antara para sastrawan, nama Angkatan dan nama Periode masih dalam perundingan. Diskusi tersebut Maman menanyakan apa perlu ada angkatan dalam sastra. Beliau ingin dalam periode 2000 ini tidak ada sastrawan yang diagungkan, hanya deskripsi karya dan proses kreatif. Perdebatan tentang perlu adanya angkatan atau tidak kembali lagi pada syarat adanya angkatan, yaitu: (1) perlu ada kelompok sastrawan sebagai pendukung angkatan, dan (2) untuk mendukung angkatan karya sastra harus inovatif, spesifik, kreatif, dan inspiratif.
Periode 2000-an karya sastranya sudah memiliki corak baru dalam prosa, puisi, drama, dan perfilman. Perkembangan sastra periode 200-an menampilkan bentuk pikiran karya sastra yang bermacam-macam dan tema beragam. Ini membuktikan karya sastra periode 2000-an mengalami perkembangan yang aktif dan positif.

B.     Karakteristik Karya Sastra Periode 2000-an
Karya periode 2000-an memiliki karakteristik sebagai berikut.
1)      Tema yang ada dalam karya sastra periode ini adalah sosial-politik, romantik, dan seluruh aspek kehidupan.
2)      Terdapat revolusi tipografi atau tata wajah yang bebas aturan dan cenderung pada puisi konkret, puisi yang dihasilkan tidak cenderung pada verbal namun juga pada visual.
3)      Adanya penggunaan wawasan baru atau estetika baru yang disebut dengan “antromofisme” yaitu gaya bahasa sebagai penggantian tokoh manusia sebagai ‘aku lirik’ dengan benda-benda.
4)      Genre yang muncul pada periode ini adalah cerpen, puisi, novel, drama, film, dan sandiwara.
5)      Ciri-ciri bahasa yang digunakan menggunakan bahasa sehari-hari.
6)      Pembaharuan terhadap model sastra lisan yang mengembalikan realitas fiktif pada realitas dongeng.
7)      Karya yang dihasilkan pada periode ini cenderung vulgar.

C.    Tokoh dan Karya Sastra Periode 2000-an
1.      Dewi Lestari
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976 yang biasa disapa “Dee”.
Karya yang dihasilkan:
a)      Supernova 1
Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (2001, novel)
b)      Supernova
Akar (2002)
c)      Supernova
Petir (2004).
2.      Ayu Utami
Kelahiran Bogor, 21 November 1968, seorang aktivis jurnalis dan sastrawan berkebangsaan Indonesia. Karya yang dihasilkan:
a)      Saman (1998)
b)      Larung (2001).
3.      Andrea Hirata
Nama saat lahir di Belitung, 24 Oktober 1967 adalah Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun. Karya yang dihasilkan:
a)      Laskar Pelangi (2005)
b)      Sang Pemimpi (2006)
c)      Edensor (2007)
d)     Maryamah Karprov (2008)
e)      Cinta Dalam Gelas.
4.      Abdul Wachid B.S.
Karya yang dihasilkan:
a)      Ode Bagai Burung
b)      Tahajud
c)      Bulan Telah Menjadi Sabit.
5.      Habiburrahman El Shirazy
Dalam penobatan Insani UNDIP Award tahun 2008 beliau dinobatkan sebagai novelis nomor 1 di Indonesia, lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976. Karya yang dihasilkan:
a)      Ayat-Ayat Cinta (2004)
b)      Di Atas Sajadah Cinta (2004)
c)      Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
d)     Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
e)      Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
f)       Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
g)      Dalam Mirhab Cinta.
6.      Triyanto Triwikromo
Salah satu karyanya adalah “Sakerah”.
7.      Rizal Mantovani
Hasil karyanya berupa film yaitu “Jailangkung”.
8.      Afrizal Malna
Hasil karyanya pada periode ini:
a)      Kalung dari Seorang Teman
b)      Tangan di Pagi Hari.
9.      Taufiq Ismail
Karya yang dihasilkan:
a)      Malu Aku Jadi Orang Indonesia (puisi)
b)      American Coruption Words (puisi)
c)      Aisyah Andinda Kita (puisi)
d)     Politik Sepak Bola (puisi).
10.  Remi Silado
Karya yang dihasilkan:
a)      Ca Bau Kan
b)      Kerudung Merah Kirmizi (2002).
11.  Christian Hakim
karya yang dihasilkan adalah “Daun di Atas Bantal”.
12.  Garin Nugroho
Karya yang dihasilkan adalah “Pasir Berbisik”
13.  Seno Gumira Adjidarma
Penulis ini lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Hasil karyanya:
a)      Sepotong Senja untuk Pacarku
b)      Ke Indonesiaan
c)      Atas Nama Malam
d)     Biola Tak Berdawai.
14.  Ahmadun Yosi Hervanda
Karya yang dihasilkan:
a)      Sembahyang Malam
b)      Sejak Mabul Reformasi (sajak).
15.  Doddy Ahmad Faudzy
Karya yang dihasilkan:
a)      Yth. Nona Yumar (cerpen)
b)      Kekasihku Desi Ratnasari (cerpen).
16.  Dorothea
Karya yang dihasilkan:
a)      Sebuah Alamat
b)      Numpang Perahu Nuh.
17.  Ahmad Fuadi
Novelis, pekerja sosial, dan mantan wartawan dari Indonesia ini lahir di Bayur Maninjau, Sumatra Barat, 30 Desember 1972. Hasil karyanya:
a)      Negeri 5 Menara (2009)
b)      Ranah 3 Warna (2011)
c)      Rantau 1 Muara (2013).
18.  Cucuk Espe
Seorang penyair, sais, cerpenis, dan penulis naskah drama ini lahir di Jombang, Jawa Timur, 19 Maret 1974. Hasil karyanya:
a)      Mengejar Kereta Mimpi (2001)
b)      Rembulan Retak (2003)
c)      Juliet dan Juliet (2004)
d)     13 Pagi (2010).

19.  Herlinatiens
Memiliki nama asli Herlina Tien Suhesti lahir di Ngawi, Jawa Timur, 26 April 1982 adalah seorang penulis. Hasil karyanya:
a)      Garis Tepi Seorang Lesbian (2003)
b)      Dejavu, Sayap yang Pecah (2004)
c)      Jilbab Britney Spears (2004)
d)     Sajak Cinta yang Pertama (2005)
20.  Raudal Tanjung Banua
Sastrawan yang karyanya didominasi puisi dan cerpen ini lahir di Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Hasil karyanya:
a)      Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
b)      Ziarah bagi yang Hidup (2004)
c)      Parang Tak Berulu (2005)
d)     Gugusan Mata Ibu (2005).



DAFTAR RUJUKAN
Sulistyorini, Dwi; Ida Lestari. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Sastra Indonesia Modern. Misykat: Malang
(https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia) diakses pada 15 November 2015
Anggraeni, Anna. 2013. Karakteristik Sastra Indonesia Periode 2000-an, (online), (http://anna-a-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-78442-Sejarah%20Kesusasteraan-Karakteristik%20Sastra%20Indonesia%20Periode%202000an.html) diakses pada 15 November 2015






Lampiran
A.    Judul               : Pasir Berbisik
Sutradara         : Nan Achnas
Sinopsis           :
Film yang di sutradarai Nan Achnas ini bercerita tentang gadis bernama Daya yang hidup bersama ibunya, Berlian, di pesisir pantai yang berpasir hitam di kawasan terasing. Ayah Daya, Agus, menghilang ketika ia masih kecil tetapi ia tidak tahu entah ke mana ayahnya pergi. Kasih sayang yang diberikan Berlian kepada Daya sangat berlebihan sampai kesendiriannya bertambah merasa terkungkung karena ibunya melarang Daya berbicara pada orang-orang sekitar, orang asing, dan bahkan wanita-wanita.
Kesepian Daya berujung dengan membayangkan bahwa ayahnya saat dia kecil suka memainkan wayang-wayang, di situ sosok ayah selalu terbayang saat kesepian melandanya. Dalam perkembangan dan pertumbuhan Daya ia sangat aneh karena memiliki kebiasaan menempelkan telinganya ke pasir seolah-olah pasir itu berbisik padanya. Daya memiliki sifat lugu dan polos.
Daya dan ibunya hidup baik-baik saja hingga suatu ketika kondisi berubah dengan adanya pembunuhan dan penangkapan tanpa sebab di kampung mereka. Kabarnya gubuk-gubuk di kampung itu juga akan dibakar. Dalam keadaanya genting seperti ini Berlian sudah dibujuk oleh adiknya, Delima, untuk berpindah namun dia tidak mau dengan pikiran bahwa akan baik-baik saja tanpa mereka. Ternyata apa yang diharapkan Berlian tidak terjadi, kampung mereka hancur lebur bahkan gubuk-gubuk banyak yang dibakar. Akhirnya mereka berpindah ke tempat lain dengan membawa harta benda yang masih tersisa seadanya. Dalam perjalanan mereka pindah ke tempat lain bertemulah mereka dengan seorang yang memberikan topeng pada Daya dengan alasan untuk menghindari roh-roh jahat dan hantu-hantu gurun. Mereka berpindah ke tempat yang mereka sebut dengan Pasir Putih mengarungi seluruh gurun akhirnya mereka sampai dan di tempat baru Daya memiliki sahabat baru bernama Sukma.
Keadaan sontak berubah dengan Agus yang tiba-tiba muncul dalam keraguan Berlian dan Daya mulai menerima kehadirannya. Agus mampu membahagiakan Daya yang rindu kasih sayang sosok ayah. Namun pada akhirnya Daya diserahkan pada lintah darat, Suwito, karena Agus terlilit banyak hutang. Kepolosan Daya membuat Suwito semakin menaikan selera dan nafsu seksnya pada gadis belia itu.

B.     Judul               : Laskar Pelangi
Penulis             : Adrea Hirata
Sinopsis           :
Di daerah Belitung ada cerita murid dari SD Muhammadiyah yang mengalami kegelisahan karena sekolah yang mereka, Ikal, Lintang, Sahara, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, dan Trapani, tempati akan ditutup apabila muridnya tidak mencapai 10 orang. SD Muhammadiyah adalah SD tertua di Belitung jadi jika ditutup maka kasihan orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya tetapi tidak mempunyai biaya. Karena di situ anak-anak yang kurang beruntung dalam segi materi berada.
Ada seorang yang memiliki keterbelakangan mental bernama Harun yang datang pada sekolah itu akhirnya menyelamatkan kesembilan murid yang sedang dilanda kecemasan. Mereka bersyukur karena SD tersebut tidak jadi ditutup. Berawal dari kebersamaan merekalah muncul cerita dibalik kesederhanaan. Guru mereka, Pak Harfan dan Bu Mus, terlihat haru dan bahagia melihat keceriaan murid-muridnya yang datang dari berbagai latar belakang keluarga. Salah satunya adalah Lintang yang mengayuh sepedanya hingga 80 km hanya untuk pulang pergi dari rumah ke sekolah.
Mereka menamakan diri mereka dengan “Laskar Pelangi” semua keceriaan di sana mewarnai kehidupan mereka. Susah maupun senang mereka lalui bersama padahal tempat mereka belajar, menurut cerita malam harinya dipakai untuk kandang bagi hewan ternak. Namun di SD Muhammadiyah itu Ikal dan Lintanglah yang memiliki banyak kenangan menarik. Sampai-sampai ada cerita percintaan tak tersampaikan antara Ikal dan A Ling yang berawal dari dia disuruh Bu Mus membeli kapur di warung milik engkongnya A Ling.
Saat ada perlombaan semacam karnaval, Mahar memiliki ide yaitu menari. Mereka menari seperti orang kesetanan tetapi kalung yang mereka pakai berasal dari buah yang langka dan hanya ada di Belitung dan membuat mereka gatal jadi gatal mereka yang indah itulah tari-tarian mereka. Hasilnya mereka memenangkan lomba tersebut.
Suatu ketika ada anak pindahan dari SD PN, dia anak orang kaya, bernama Flo. Semua berubah saat dia datang, yang paling memengaruhi adalah nilai Mahar semakin turun karena dia sebangku dengan Flo itulah yang membuat Bu Mus kecewa. Namun ada yang membuatnya bangga yaitu perjuangan Lintang terhadap pendidikan dan dia sangat cerdas. Lintang dan kawan-kawan membuktikan bahwa bukan hanya fasilitas yang membuat seseorang dapat meraih kecerdasan namun juga dengan kerja keras atau kemauan yang kuat untuk belajar. Saat mereka beranjak dewasa pengalaman yang paling mereka ingat adalah ketika di SD Muhammadiyah yang mengajarkan mereka tentang persahabatan, ketulusan guru, dan sebuah mimpi yang harus mereka wujudkan.

C.     Judul               : Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Pengarang       : Taufiq Ismail
Analisis           :
Salah satu dalam antologi puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia:

Takut ’66, Takut ‘98
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa

            Puisi Takut ’66, Takut ’98 ini menerapkan pendekatan sejarah menunjukkan adanya peristiwa politik yaitu pada masa reformasi yang terjadi pada Mei 1998, presiden Soeharto mengundurkan diri dari kursi pemerintahan karena adanya protes politik masa orde baru yang beliau pimpin sejak tahun 1966. Inilah yang melatarbelakangi puisi tersebut. Pada puisi tersebut tertera bahwa mahasiswa tertekan dengan keadaan politik yang membungkam suara mahasiswa. Tetapi sebagai mahasiswa mereka rela berkorban demi menumbang kediktatoran. Dalam puisi itu juga tertera presiden menekan menteri, menteri menekan rektor, rektor menekan dekan, sehingga dekan menekan dosen, dan dosen menekan mahasiswa. Namun pada baris terakhir adalah klimaks puisi yang menyatakan presiden takut pada suara mahasiswa karena suara mereka adalah ancaman pada pemerintahan beliau.